Piala PG/TK Al Husna

Piala ini diberikan kepada siswa siswi PG/TK Al Husna yang menjadi 9 Bintang Kecerdesan 2013.

Marchingband PG/TK Al Husna

Marchingband siswa siswi PG/TK Al Husna. Sangat terampil dan mempesona.

Pantomim

Pantomim ini dilakukan oleh siswa siswi PG/TK Al Husna. Begitu lucunya mereka.

Tari Merak PG/TK Al Husna

Sangat cantik dan menarik.

Ibu Kepala Sekolah bersama seluruh Guru dan Karyawan PG/TK Al Husna

Foto bareng ini dalam acara pelepasan siswa siswi PG/TK Al Husna 2013.

Senin, 18 November 2013

BAKTI SOSIAL PAUD TERPADU AL-HUSNA 2013

Siswa- siswi PTA ( Paud Terpadu Al-Husna ) yang terdiri dari siswa- siswi Play Group, TK dan TPA ( Taman Penitipan Anak ) Al-Husna  mengadakan Bakti Sosial ke Panti Asuhan Diponegoro. Mereka ingin berbagi dengan saudara- saudaranya yang ada di Panti asuhan Diponegoro. Hal ini dilakukan untuk memupuk keperdulian anak-anak.

Minggu, 17 November 2013

PROFIL KEPALA PAUD TERPADU AL-HUSNA LAWANG

Fauziah Hermawati,S.Pd, adalah anak kedua dari pasangan Bapak Haji Soepra'i Ahmad Rifa'i dan Hj.Mutmainnah. Lahir di Lawang Kab. Malang pada tanggal 25 Maret 1971 dengan selamat.Setelah tamat dari TK Aisyah I Lawang melanjutkan ke SDN I Ketindan, pada saat mengenyam bangku Sekolah Dasar sudah mulai mengajar membaca Al- Qur'an di rumahnya sendiri sampai duduk dibangku SMP. 
Setelah tamat dari SMP, beliau melanjutkan ke SMAN 1 Lawang. Pada saat di SMA-pun tetap mengajar membaca Al- Qur'an dirumahnya. Santrinya mencapai 60 orang ( usia SD dan SMP ) lebih sehingga harus ada sip 1,2 dan 3. Setelah tamat dari SMAN 1 Lawang melanjutkan studi ke IKIP Negeri Surabaya. Di IKIP Negeri Surabaya juga banyak menangani anak- anak. Lulus dari IKIP Negeri Surabaya melanjutkan ke Pondok Pesantren Darul Lughoh Wad- Da'wah Raci Bangil. Disana beliau memperdalam bahasa Arab. Tahun 1995 beliau menikah dengan seorang pria tampan dari pulau garam yaitu Drs. Mohamad Mahfud. Walaupun telah menikah beliau tetap melanjutkan studi memperdalam Bahasa Arab di LPBA Sunan Ampel karena kecintaannya pada Ilmu. Akhirnya pada tanggal 17 September 1996 beliau dikaruniai putra yang pertama yang bernama Wafiq Umar Al- Farouq. Bertolak dari putra yang pertama inilah beliau mulai melakukan banyak observasi, penelitian tentang anak berkebutuhan khusus ( ABK ). 
Penanganan terhadap ABK semakin menunjukkan kepiawaian beliau mengatasi berbagai problem anak ABK setelah beliau menformulasi hasil penelitiannya dengan konsep " penyelesaian tugas perkembangan anak". Untuk mendukung konsepnya itu beliau mendirikan Play Group dan TK Islam Al- Husna pada tahun 2001, sebagai Laboratorium penerapan konsepnya. Sampai- sampai ada rumor di masyarakat yang mengatakan bahwa : " jika anak yang bermasalah saja bisa diatasi, apalagi yang normal ". Sejak saat itulah Play Group dan TK Islam Al- Husna Lawang tidak dapat menampung pendaftar.Tahun 2007 gedung Play Group yang dulunya berdomisili di Jl. Mayor Abdullah 250 Lawang dipindahkan ke Perum Lawang dengan cara mengontrak, agar kelas Play Group dapat dipakai untuk TK. Tahun 2008 Play Group memiliki gedung sendiri di Jl. Lawang View Tama I No. 9 Lawang. Jumlah siswa TK semakin bertambah dan masyarakat minta agar kelasnya ditambah. Delapan kelas yang ada di Jl. Mayor Abdullah 250 Lawang, telah tidak dapat menampung lagi, akhirnya di bukalah kelas baru di Jl. Lawang View Tama I No. 2a Lawang. Dengan demikian kelas TK sebanyak 16 kelas sedangkan Play Group sebanyak 10 kelas.
Berdasarkan penelitian dan kecintaannya kepada anak- anak, beliau berhasil dinobatkan sebagai guru Teladan Tingkat Kabupaten peringkat I dan Propinsi Jatim peringkat III, selamat untuk beliau.........

Sabtu, 16 November 2013

MENGELOLA EMOSI ANAK & ORANG TUA (KEDUA)


Karakteristik anak-anak adalah berorientasi ada kebutuhannya, sehingga aktifitas yang dilakukan tidak terlepas dari pemenuhan kebutuhannya.Oleh karena itu kita harus memahami aneka kebutuhan anak seperti makan, minum, istirahat, kasih sayang, dihargai, diakui dan kesempatan eksplorasi / bermain. Pemenuhan kebutuhan yang kurang maksimal biasanya menyulut emosi anak, contohnya: anak lapar atau haus,tidak bisa menahan diri dan diajak kegiatan lain, ia akan menangis bahkan meronta-ronta. Anak yang merasa kurang disayang pun akan mudah emosi, bahkan bertabiat melepaskan emosi pada teman berupa pukulan, gigitan karena tidak bisa membalas rasa sakit hati pada orang tua.Seringkali kita sempurna dalam pemenuhan makan, minum dan istirahat anak, namun kurang istiqomah dalam pemenuhan kasih sayang, menghargai anak, pengakuan eksistensi diri anak dan kesempatan eksplorasi. Akibatnya anak mengeluarkan bentuk emosi berupa merengek-rewel, menangis lama, memukul diri sendiri, teriak-teriak, berkata kotor, berguling-guling di lantai, lompat-lompat, membentuskan kepala, membuat badan kaku,  bahkan kejang. Emosi seperti inilah yang disebut temper tantrum. 







MENGELOLA EMOSI ANAK & ORANG TUA (PERTAMA)

Kondisi anak pada umumnya bagai kertas putih ketika dilahirkan, maka orang tua, keluarga besar, guru dan lingkungan yang membentuk prilaku dan kejiwaannya, seperti hadist Nabi Muhammad : kullu mauludin yuladu 'alal fithroh ilaa akhirihi. Sehingga tidak ada anak pemalas, pemarah, nakal, jorok dan lain-lain secara keturunan. Prilaku yang menyimpang terjadi akibat proses meniru, terutama meniru pada periode emas (golden age) di usia 0-6 tahun, dimana perkembangan otak bisa mencapai 90 %.
Seringkali kita kurang menyadari hal ini, lalu panik melihat perkembangan anak yang kurang baik. Dari program konseling yang dilakukan di Al-Husna terkuak adannya pola asuh anak di rumah yang kurang tepat, perlu perbaikan, contohnya : berdalih sayang anak orang tua gemar menggendong, menyuapi, memakaikan sepatu dll. Si anak merasa nyaman dilayani, kurang terlatih menggerakkan badan dan jari-jemari untuk bantu diri. Ketika anak mulai bermain dan belajar di Play Group/TK, mulailah terasa beban orang tua semakin banyak, pekerjaan tambah banyak saat pagi hari, kerewelan memicu emosi orang tua dan semakin parah-tinggi emosi bila melihat anak lain yang mau mandiri. Ujung-ujungnya memarahi dan membandingkan anak agar mau mandiri.
Sebenarnya di usia 3 tahun anak sudah bisa makan sendiri, bila dibiasakan belajar makan sendiri di usia 1 tahun. Jalan bahkan lari sangat mudah untuk mereka.Menggendong boleh dilakukan ketika sakit, atau menenangkan emosi. Berkaitan dengan memakai sepatu pun anak-anak mampu, bila sepatunya sederhana tak bertali dan sering dilatih serta dibiasakan pakai sendiri. Kurang tepat memarahi anak apalagi membanding-bandingkan dengan anak lain. Anak-anak bisa terluka hatinya, dan mungkin bertanya mengapa setelah sekolah sering dimarahi ? Anak yang cerdas memilih tak sekolah, lebih enak di rumah tidak ada kegiatan terburu-buru dan bebas kekerasan fisik maupun verbal.
Pembaca yang dimuliakan Alloh, kejadian di atas tidak akan terjadi, andaikata kita telah menyimak petuah Sayyidina Ali R.A sebagai berikut: Ketika anak kita berusia 0-6 tahun dia bagai raja, maka layanilah mereka.Ketika berusia lebih dari 6 tahun-12 Tahun, dia bisa sebagai pelayan, maka suruhlah. Dan ketika ia lebih dari usia 12 tahun, berperanlah sebagai teman. Makna yang dikandung bahwa ketika anak kita berusia 0-6 tahun mereka seolah raja yang berhak memilih, mengatur dan memimpin (egosentris). Raja tersebut punya kebebasan. Raja tidak hidup sendirian, ada rakyat, perangkat dan pelayan kerajaan yang setia, menyayangi, rela taat dan berkorban. Sang raja tidak boleh dicela, dimarahi, diintimidasi apalagi dipukuli. Namun perlu juga diperhatikan bahwa raja tidak selalu butuh dilayani, hanya raja lemah dan sakit yang butuh digendong, dituntun dan disuapi. Dari uraian diatas patut kita terapkan pola asuh yang memberi kesempatan eksplorasi yang luas pada anak agar muncul kemampua memilih,melakukan sendiri, mengatur dan memimpin. Orang tua hendaknya bersabar, menyayangi, menghormati, dan tidak melakukan kekerasan fisik maupun verbal pada anak. Adapun untuk usia di atas 6 tahun hingga 12 tahun, maka orang tua memegang kendali. Di usia tamyiz ini anak mulai berkembang kemampuan berfikir, menerima aturan dan beban kerja secara bertahap, sehingga perlu dilatih, disuruh dan diarahkan menuju kemandirian. Untuk usia di atas 12 tahun hendaknya orang tua bersikap sebagai teman - sahabat yang memanusiakan manusia, mengingat anak sudah baligh atau berakal mampu berpikir seperti orang dewasa, saatnya anak dilibatkan dalam mengambil keputusan keluarga, menyelesaikan persoalan dan boleh dijadikan imam.
Demikian edisi mengelola emosi anak dan orang tua tahap satu, semoga kita dapat merenungkan hadis Nabi Muhammad SAW dan petuah Sayyidina Ali RA, mampu menerapkan serta bisa menjadi orang tua yang arif bijaksana. aamiiiin (Fauziah Hermawati, S.Pd)


Kamis, 14 November 2013

PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK

 Hasil penelitihan DR.Hugh Taylor dari Yale School of Medicine menunjukkan bahwa ponsel sangat berdampak pada bayi berupa gerak  hiperaktif dan kemampuan otak menjadi rendah memori. Uji coba  yang dilakukan pada tikus tanpa dekat ponsel dan sebagian didekatkan ponsel hidup setengah hari, menunjukkan hasil tanpa dekat ponsel mereka tenang dan bermemori baik, sedangkan yang hidup di dekatkan ponsel sebaliknya.
Hasil penelitihan American Academy of Pediatrics menunjukkan gelombang elektromagnetik, radiasi cahaya dan suara dari Televisi , Lap Top, dan lain-lain yang sejenis berpotensi merusak syaraf di otak bayi dan anak-anak, sehingga melarang bayi di bawah usia 2 tahun melihatnya, dan mengijinkan maksimal menonton selama 2 jam untuk usia 2 tahun ke atas.
Selain itu menurut beberapa penelitihan menunjukkan pengaruh tehnologi terhadap anak adalah memicu ADHD, gangguan Psikosomatis, gangguan stabilitas emosi, gangguan tidur malam-gelisah,kesulitan bergaul, kesulitan konsentrasi, obesitas pada anak serta gangguan prilaku.
Oleh karena itu sebaiknya orang tua mengatur pemakaian tehnologi di rumah. Saran kami untuk tidak meletakkan TV di dalam kamar / menidurkan anak dekat TV, HP, Komputer dll. Lalu batasi penggunaan sampai 2 jam untuk anak-anak. Awasi dan batasi program yang boleh ditonton. Gantilah kebiasaan menonton TV dan bermain komputer dengan kegiatan yang menyenangkan dan bermakna seperti: lompat tali, dakon,halma, ular tangga, menyanyi bersama, mewarnai, menggambar, lempar tangkap bola, sepak bola, bersepeda 3 roda, jalan-jalan, berkebun, bermain origami, plastisin, lego, menara gelang, bongkar-pasang dll

RISALAH JUM'AH MIN AL-HUSNA

Lawang, 15 Nopember 2013 : 11 Muharram 1435 H

Anak merupakan asset dunia akhirat. Oleh karena itu mendidik anak menuju keridhoannya menjadi amanah yang berat bagi kedua orang tuanya.

SERBA SERBI

Jumlah siswa PAUD Al-Husna sebanyak 400 siswa, wOW